Program & Kegiatan Samarata Bergerak bersama untuk masyarakat

Si "abadi" di Puncak Burni Telong

Eidelwis, siapa yang tidak kenal bunga yang satu ini, apa lagi jika kita tanyakan pada pecinta alam, bunga yang hanya bisa hidup di ketinggian, bisa ditemukan di gunung berapi yang aktif. Memiliki nama latin Anaphalis javanica, lebih dikenal juga  sebagai Edelweiss jawa (Javanese edelweiss) atau Bunga Senduro.


Edelweis merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Bunga-bunganya, yang biasanya muncul di antara bulan April dan Agustus.

Dikarenakan keberadaan nya yang mulai langka, maka bunga ini termasuk kategori bunga yang dilindungi, diberikan gelar sebagai “Bunga Abadi” semakin membuat minat orang untuk memiliki bunga ini, namun bukan perkara yang muda, harus lah mencapai tinggi nya gunung berapi untuk mewujudkan hal itu.

Sosok bunga “Bunga Abadi” ini bisa juga ditemukan di Gunung Berapi Burni Telong, terletak di Desa Rambune, Kec. Timang Gajah, Kab. Bener Meriah, Provinsi Aceh. Gunung berapi aktif dengan ketinggiaan 2624 Meter diatas permukaan laut (mdpl). 


Suara alam sangat jelas terdengar, kala menginjak kan kaki di pintu rimba, suatu batas perkebunan warga dengan dengan hutan, jalur yang harus dilalui untuk menuju puncak gunung tersebut, semakin dalam masuk kehutan, keadaan makin sunyi, hanya suara burung-burung yang sahut menyahut seoalah mengetahui keberadaan pendaki yang ingin menaklukan Gunung berapi tertinggi di Aceh ini.

Di tengah perjalanan bisa ditemuka aliran air, yang bisa jadi alternati bagi pendaki untuk stock air mereka. Airnya jernih, sejuk, dan yang pasti masi sangat alami, dikarenakan berasal  langsung dari alam yang berada diketinggian.

Untuk bisa mencapai puncak, tidak lah bisa dilakukan dalam sekali perjalanan, terlebihh dahulu para pendaki harus mendirikan tenda di kaki Puncak burni Telong. Harus menjadi catatan juga, karena suhu di lokasi penginapan ini sangat dingin dan malam hari kemungkinan besar akan selalu hujan, haruslah dipersiapkan baju yang tebal, untuk mengantisipasi suhu dingin yang akan menusuk hingga ke tulang.

Setelah beristirahat, pukul 03.00 dini hari, harus melanjutkan pendakian kembali, jalur yang ini lebih terjal dan menantang. Ditambah dengan keaadaan gelap malam, maka dari itu perlengkapan harus lengkap, yang sangat terpenting sarung tangan, jaket, sepatu, dan senter harus ada. 

Dibutukan aktu sekitar 4 jam untuk sampai kepuncak dari lokasi penginapan, dijalur ini bisa juga beristirahat di sebuah Gua, tidak terlalu besar, tapi cukuplah untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah dikarenakan harus terus mendaki. Disepanjang jalur ini akan kita temukan si “Bunga Abadi”, dikiri kanan jalan ia bersembunyi dintara semak belukar hutan pengunungan, jika kita beruntung, mata akan dimanjakan oleh keindahan bunganya. Dianjurkan untuk tidak memtik bunga ini, dikarenakan status nya yang kini menjadi tanaman yang langka.

Dari gua mulai lah kita harus berjalan merangkak, pegangan hanya pada bebatuan, dibutukan waktu selama 1 jam melewati perjalanan ekstrem hingga sampai dan menginjak kan kaki di Puncak. 


Sunrise, adalah yang ditunggu-tunggu jika sudah dipuncak, jika beruntung, sunrise akan terlihat dengan jelas tanpa ditutupi oleh awan-awan. Sungguh suatu harga yang pantas dengan segala perjuangan sampai ke puncak, dengan suguhan keindahan Alam dan kecantikan si bunga "Abadi" dari ketinggian 2624 Mdpl, Puncak Gunung Berapi Burni Telong.

Senja di Kaki Langit

Gerimis hadir pada awalnya, dan itu awal sekali, perlahan gerimis bermetamorfosis menjadi besar, nama nya pun berubah, orang-orang banyak menyebut nya Hujan. aku, dia, dan mereka, juga menyebut demikian.

Hujan menghilang, namun prosesnya tak seperti awal kehadiran nya, tak ada gerimis di penghujung, ia lenyap dalam sekejap mata. Menyisakan aroma basah di segala tempat, de-daunan kian tampak segar dengan percikan hujan, rerumputan tampak mulai berdiri kembali, setelah guyuran hujan menyapa nya.


Ya, kala itu senja, senja yang tampak berbeda dari biasa nya. Senja dengan aroma basah yang membuat sejuk hati yang panas, membuat nyaman hati yang sejuk, menenangkan pikiran setiap isan yang bergelut dengan yang nama nya masalah.

Gerimis dan hujan seperti nya sudah lelah, mereka pergi mencari tempat peraduan baru untuk berbagi cerita.

Senja kian terlihat layaknya senja. Kaki langit tampak sangat cerah. Pepohonan yang tadinya mendapat sapaan dari hujan, kini kembali di sapa oleh senja, kali ini ia tak basah, warna dedaunan-nya tampak begitu kontras dengan kekuningan sang senja. Rumput begitu semangat menyambut senja, karena bayangan nya menjadi begitu besar kala senja. Setidaknya memberi suatu pengharapan, bahwa mereka bisa tampak luar biasa, walau itu di kala senja.

Senja di kaki langit, aku tepat berada di kakian langit senja, berada di hadapan pantulan senja di atas air, namun diriku tak segan berbagi cerita bersama rumput dan pepohonan, tentang Senja di Kaki Langit.

Miliki yang kamu cintai, dan cintai yang kamu miliki

Masih terbayang dalam ingatan ku, motivasi yang diberikan oleh Pak, Drs. Marwanto, ia adalah sosok kepala sekolah dimana aku menimba Ilmu pada masa SMA dulu, beliau benar-benar memotivasiku, dalam hal apapun itu. Ia memang seorang guru mata pelajaran SEJARAH. Yang identik dengan keadaan zaman dahulu, kebanyakan teman-teman ku beranggapan mereka yang bergelut dengan sejarah, mereka yang kuno, tidak mau melihat kedepan, karna hanya membahas dan melihat masa lalu.

Namun bagiku, beliau adalah motivasi awalku, saat pertama kali aku menginjakkan kaki di bangku SMA, saat ia mengucap kata; “miliki yang kamu cintai, dan cintai yang kamu miliki”. Pikiran ku bekerja keras mencerna kata-kata beliau tersebut.  Memiliki sesuatu dengan cinta pasti akan memberi manfaat tersendiri. Dibalik sikap nya yang tempramen, tersimpan harapan untuk semua anak didiknya menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa kelak.

Terlintas dalam hatiku,ku lebih baik menerima motivasi-motivasi , dari pada harus menelan pelajaran di sekolah sebanyak-banyaknya. jika motivasi-motivasi telah menyerang pikiran, niscaya ia pasti akan berusaha untuk menjadi apa yang ia inginkan, akan berusaha semampunya, akan siap melewati rintangan apapun untuk mewujudkan motivasi yang telah tertanam teguh dalam dirinya.

Walau orang diluar sana tengah sibuk mengejar bagaimana menyekolahkan anaknya, berharap anaknya mendapat peringkat bagus, tapi tanpa motivasi dalam dirinya untuk menjadi manusia yang berguna, semua akan sia-sia saja. Peringkat bagus yang ia banggakan tak akan bisa membuatnya manusia berguna, toh itu hanya sebuah goresan hitam diatas putih, status dalam suatu lingkungan sekolah. Seperti kata temanku; “ambil saja rangking ku, ku tak perlu itu, aku hanya perlu lebih pintar darimu”. Dan aku sangat setuju dengan temanku ini.

“belajar lah mencari motivasi, dengan itu segala hal mungkin akan bisa”.

Note: Catatan lama :D

Catatan Kecil di Kolaborasi Saman Jazz

Aura bagaikan dalam panggung perhelatan Besar yang di isi oleh para Pemusik tingkat Nasional yang sekarang sedang di gandrungi oleh semua masyarakat, baik itu anak-anak, kaula muda, bakan orang dewasa sekalipun. Begitu lah yang saya rasakan ketika pertama menginjakkan kaki di dalam Aula Dayan Dawood yang menjadi tempat perhelatan Kolaborasi Tarian Saman Gayo, dan music Jazz yang berasal dari Amerika Latin Namun sudah lama ada di Indonesia, tepat nya pada tahun 1930, yang di bawa oleh para pekerja-pekerja yang berasal dari Filipina. Acara ini dalam rangkaian pelantikan Pengurus Besar (PB) Himpunan Pelajar Mahasiswa Gayo Lues (HIPEMAGAS) periode 2013-2015, sungguh apresiasi yang sangat luar biasa untuk Mahasiswa Kab. Gayo Lues, yang mengadakan Acara ini, yang diisi oleh para Pemain Jazz ternama dan juga bisa menghimpunan begitu banyak penonton.

Rasa penasaran saya semakin menggebu-gebu, apa itu Jazz? Bagaimana saman di padukan dengan music jazz? Itu adalah sebagian pertanyaan yang ada dalam pikiran saya, bagaimana saya tidak bertanya-tanya, setiap wajah pengunjung yang saya lihat, terpancar Aura penasaran yang bahkan melebihi dari rasa penasaran saya sendiri. Akankah sinkron suatu Seni Gayo Asli, dipadukan dengan music yang kategori nya Easy Listening, singkat katanya music santai yang asal nya dari luar negeri.

Belum juga hilang rasa penasaran saya, tampillah suatu seni gayo yang lain nya, mula nya saya mengira itu adalah tari saman, maklum saja, selama ini saya hanya mengetahui  Saman itu  suatu kesenian Aceh yang berasal dari Tanah Gayo dan sudah mendunia, tidak tau seperti apa pastinya Tari itu. Kesenian yang yang ditampilkan itu ternyata tarian, Turun aih aunen (air telaga).  Tarian yang mengisahkan para wanita-wanita Gayo pada zaman Dahulu yang turun ke Telaga-telaga. Tarian nya cukup menarik perhatian saya untuk lebih dalam memahami Seni ini, namun disayangkan saya hanya mengetahui sedikit tentang tarian tersebut.

Belum habis rasa terkesima yang saya rasakan, kembali rasa kagum saya di muncul. Kali ini masih dengan seni tari, yaitu; Tari Beburu Gayo (Gadis Gayo). Beburu sendiri mempunyai arti Gadis atau wanita. Tarian ini mempunyai cerita di balik sejarah awal mulanya, namun kembali hanya sedikit yang saya tahu, tarian yang mengisahkan Keanggunan para wanita-wanita Tanah Gayo. Sungguh luar biasa Kesenian Gayo, daerah yang berada di Tengah-tengah Provinsi Aceh.

Sepertinya harus mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Tanah Gayo, mengapa tidak. Untuk ketiga kali nya, saya kagum dengan suguhan seni dari Tanah gayo lainnya. Tari Munapi (menampi),  begitulah nama yang disebutkan oleh MC. Saat mempersilahkan para penari memasuki Panggung, MC pun memberikan sedikit cerita tentang tari ini, bagaimana tarian yang mengisahkan seorang yang sedang menampi beras pada musim panen padi.

Sebelum yang ditunggu-tunggu oleh ribuan penonton tampil, yaitu Kolaborasi Saman Jazz. Tampil pula satu lagi penampilan, Tarian Bines. Dalam penampilannya, tarian ini, memnceritakan atau mengisahkan sesuatu, tepatnya lagi memberi suatu pesan bagi siapa saja yang menyaksikan penampilan tari ini, seperti itu penjelasan teman saya yang juga hadir saat itu, dan ia adalah orang yang berasl dari Tanah Gayo.
Tiba lah kami semua pada acara puncak dan sangat di nanti-nantikan, Kolaborasi Tari saman & Musik Jazz. Sorak sorai para pengunjung mengiringi masuknya Agam Hamzah, dan kawan-kawan. Yang menjadi pusat perhatian adalah kehadiran Daud ‘Debu’. Mungkin karena dia adalah Warga Asing yang telah lama berkiprah di kancah Musik Nasional, music religi khususnya.

Suara keyboard, Drum, Gitar, Bass, dan Perkusi, mengiringi bagaimana setiap gerakan saman ditampilkan malam itu, suatu inovasi yang baru pertama ini saya lihat. Gerakan cepat saman diimbangi oleh para pemusik jazz untuk menyelaraskan antara gerakan-gerakan saman dan nada dari music jazz itu sendiri. Sungguh menakjubkan penampilan malam itu, Jazz dengan karakteristik nya dan saman juga dengan ciri khas nya, yang jelas-jelas sangat berbeda, berpadu dalam satu panggung, menciptakan suatu sinkron antara dua budaya yang berbeda.

Para penari saman telah usai berkolaborasi dengan music jazz, dan mereka pun meninggalkan panggung. Terlihat para penonton tak bisa menyembunyikan rasa takjub yang teramat dahsyat, apa lagi ketika saat Agam hamzah cs menampilkan keahlian mereka masing-masing dalam menggunakan alat music, dan memadukan setiap nada alat music yang mereka mainkan.

Melihat inovasi yang begitu luar biasa ini, sudah sepatut nya kita mencintai Budaya dan melestarikannya, walaupun saya sendiri bukan berasal dari tanah Gayo, namun penampilan malam itu telah membuat diri saya sendiri untuk ingin lebih memahami dan mencintai dunia Seni, dan khusunya Tari Saman.

Menulis Kesulitan untuk 'Menulis'

Menulis, saat kita membayangkan hal ini, yang terlintas didalam fikiran kita, ini adalah hal yang sangat mudah, bahkan lebih mudah dari membalikan telapak tangan. Ya karena kita telah belajar menulis dari Sekolah Dasar (SD), bahkan dari sebagian orang ada yang lebih cepat dalam menulis walaupun tulisan nya bagaikan cakar ayam. Ayam yang kuku nya panjang –panjang dan tidak pernah dipotong lalu
mencaru-caruk sebuah kertas, pasti bisa dong di bayangkan bagaimana bentuknya. Hahaha

Cerita ini bukan tentang mengajarkan teman-teman semua cara menulis yang baik, tapi saya mau bercerita tentang pengalaman pribadi saya, sepertinya teman lain juga pernah merasakan, ya sudah lebih baik ini tentang pengalaman kita semua. Supaya tidak ada dusta diantara kita nantinya. 

Ya sudah, saya langsung saja ya. terlalu banyak Mukadimah (Pengantar) takutnya entar membuat teman-teman malah kabur dari cerita saya. Teman-teman pasti bisa bayangin kalau misalnya kita punya suatu obsesi untuk menuliskan sebuah Novel, ‘makan tak nyaman tidur pun tak kenyang’, jika Obsesi kita itu tidak terwujud. Wah, ternyata kebalik teman, ‘Makan tak Kenyang tidur pun tak nyaman’, nah ini baru betul lo…

Pertama saya membaca sebuah Novel (tidak perlu saya sebut dong Novel apa itu) saya langsung tertarik dengan bahasa yang ditawarkan, membuat saya seakan melayang melintasi setiap likuk-likuk paragraph dan membuat saya seolah sedang berada ditengah-tengah cerita, ingin rasanya saya mengambil bagian dalam cerita yang di tawarkan penulis. Sebenarnya saya tidak hoby membaca, karena saran dari teman saya, jika saya ingin menulis saya harus terlebih dahulu membaca, ya sehingga saya mencoba-coba membaca, pertama-tama membaca Subtitle di film-film Luar negeri, kemudian rutin membaca Koran-koran Harian yang terbit di Daerah saya, hingga berlanjut lah kepada Novel. Ternyata membaca itu mang asik an dan juga menambah Ilmu pengetahuan siapa saja yang suka membaca.

Namun saat saya mencoba untuk membuat sebuah tulisan yang sedikit mirip-mirip dengan apa yang sudah saya baca, baik itu di Novel, Koran, dll. Saya mendapat begitu banyak hambatan, apa yang ingin saya tuliskan selalu melayang bagaikan layang-layangan yang ditiup angin, membumbung tinggi mengangkasa. Setiap paragraf yang telah saya pikirkan inti dari yang saya ingin tuliskan selalu tidak bisa saya kembangkan kata-kata nya menjadi hidup, dan membuat seolah-olah tulisan saya bermain dalam alam bawah sadar bagi siapa saja yang membaca nya.

Lalu, saya mencoba menjabarkan sebuah kalimat; 'TULISLAH TENTANG KESULITAN ANDA MENULIS', dari kata itu lah saya mencoba menuliskan sebuah kesulitan saya dalam menulis. dan ternyata saya berhasil membuat satu tulisan, dan tulisan itu yang teman-teman baca saat ini.

Menyusuri Pasir Putih



Pagi yang cerah untuk sebuah petualangan di awal kedatangan ke Ibu kota Nanggroe Aceh Darussalam yaitu, Banda Aceh. Daerah ini yang jika dilihat dari peta, berada di ujung paling utara pulau sumatra dan berbatasab langsung dengan samudra Hindia. Masyarakat Aceh dan juga masyarakat luar daerah, menyebut Aceh sebagai Kota Serambi Mekkah atau “Beranda” nya Mekkah, sebutan inisendiri tidak terlepas dari sejarah masa lalu Aceh di awal masuknya Agama Islam ke Nangroe Aceh Darussalam. Kerajaan Samudra Pasai dalah kerajaan Islam pertma yang ada di Aceh, dan menyebarkan Islam sampai ke negeri Malaka, yang  sekarang adalah Negara Malaysia.

Adapun Aceh dinamakan Serambi Mekkah, adalah karena Ibukota Kerajaan Aceh , yaitu Banda Aceh, adalah pusat kegiatan ilmu-ilmu, Tamaddun dan Kebudayaan Islam. Sebelum orang-orang Nusantara (Indonesia) berangkat untuk menunaikan rukun Islam kelima, ibadah haji, terlebih dahulu mereka datang ke Aceh. Tujuan nya adalah untuk belajar dan latihan ibadah haji. Di Ibukota Kerajaan Aceh, Banda Aceh sendiri terdapat sebuah Perguruan Tinggi Islam, yang bernama Jami Baiturrahman.

Aceh, merupakan salah satu Provinsi yang porak poranda di hantam gelombang laut raksaksa, masyarakat Aceh menyebutnya Gelombang Tsunami, yang terjadinya pada Desember 2004 silam. Namun pasca kejadian itu, Aceh sekarang berbenah dan membangun segala sesuatunya yang hancur akibat bencana 8 tahun silam itu. Salah satu sektor yang sudah tercapai pembangunan nya adalah Pariwisata. Banda Aceh yang letaknya di kekelilingi oleh samudra Hindia ini mempunyai taman wisata pantai yang menakjukan dan sangat Indah. Pasir putih, adalah salah satu tujuan wisata yang indah yang dimiliki oleh Aceh, khusunya Aceh besar.

Keindahan lautnya mungkin bisa kita samakan dengan keindahan laut di palau Dewata Bali, mulai dari pasir putihnya yang terhampar luas, hingga keindahan pantai dan lautnya . Daerah yang berjarak sekitar 35 km dari pusat kota Banda Aceh bisa ditempuh dengan kendaraan seperti sepeda motor atau mobil. pesona alam yang menakjukan yang terhampar membuat siapa saja yang berkunjung enggan beranjak dari tempat ini.

Jaraknya yang lumayan jauh dari Pusat Ibu kota Aceh dan juga jalan yang harus melalui bukit-bukit yang tampak indah, membuat kesan tersendiri bagi siapa saja yang telah mengunjungi tempat ini, kesan yang bisa membuat siapa saja ingin kembali menikmati keindahannya.
Tidak hanya Pasir Putih, namun ada tempat wisata lain yang patut kita kunjungi, dan memiliki keindahan yang tidak kalah menakjukan. diantaranya adalah; pantai Lampu’uk, Waterpark Mata ie, Taman wisata Tsunami kapal PLTD apung, dll. sungguh keindahan yang luar biasa jika berkunjung ke Daerah yang berada di ujung utara Pulau Sumatra ini.

Cintaku Dalam Benci

Dalam kehidupan, terutama kehidupan manusia pasti akan diwarnai dengan berbagai bunga-bunga kehidupan. Sangat indah rasanya, kita bisa belajar dari pengalaman. Walaupun tak selamanya pengalam dalam kehidupan iu bahagia. Namun seiring berjalannya waktu kita harus menerima kenyataan bahwa kebahagian dan kesedihan dalam kehidupan itu ada.

Apapun yang terjadi baik yang membahagiakan atau tidak, kita harus tetap menerimanya dengan lapang dada. Sebut saja Sony, seorang anak manusia yang hanya ingin mencari kebahagian, harus terus bergulat dengan berbagai tantangan hidup. “cinta sejati” itulah yang menjadi pegangannya dalam menemukan kebahagian yang selalu diimpi-impikannya. Tak usah bertanya tentang kisahnya, karna sungguh takkan pernah ia ceritakan. Tanyakan padanya sampai kapan ia akan terus mencari?? Pasti ia akan menjawab “sampai aku lelah mencari”. Namun kata “lelah” tak pernah ada dalam kamus kehidupannya.

Sungguh malang nasibnya, tak ada angin tak ada badai. Dedaunan pun berjatuhan ke bumi, seiring dengan amarah yang memuncak, menutupi rasa belas kasihannya. Sungguh bagai seorang yang mati rasa.

Tubuhnya lemah, matanya basah, dan ucapannya tersenduh-senduh bagai seorang yang tengah kehilangan bagian penting dalam hidupnya.

Yang telah terjadi adalah pada dirinya merupakan “karma” baginya, atau “derita” untuknya. Mengapa  orang yang sangat ia cintai, malah ia yang menaburkan garam di lukanya yang masih terkoyak. Membersihkan dengan air asam.

Kebencian, kecewa, dan dendam telah menutupi hatinya, yang terlintas dalam benaknya hanya “kebencian”. Ia telah terjerumus dalam jurang kebohongan. Yang sesungguhnya ketulusan cinta harus berbalas kepiluan yang sangat menyakitkan. “aku mencintaimu” tak pernah ada balasan “aku juga mencintaimu”. Yang harus disadari sekarang olehnya, apakah ia orang yang telah dikutuk untuk menjadi manusia yang sangat bodoh.???

Mau tidak mau, hidupnya harus terus berjalan. Tanpa mengurangi rasa cinta yang telah ia miliki. Namun ia harus bersifat tegas dalam menentukan kebahagiannya kelak. Antara hidup dalam CINTA atau BENCI.

Kami Butuh Pendidik Bukan Pengajar


Sungguh indah jika hidup ini penuh dengan ilmu. Kita bisa mengetahui mana saja yang baik dan mana saja yang tidak baik. Belajar dan terus belajar, merupakan cara untuk kita bisa pintar. duduk di bangku, dan menerima segala bentuk macam pelajaran. Di antara sekian banyak pelajaran yang diberikan pasti ada saja pelajaran yang tidak kita sukai.

Berbicara tentang pelajaran yang tidak disukai, bearti kita telah berbicara tentang bakat. Bakat orang berbeda-beda, dan tidak bisa dipaksakan untuk menjadi sama. Biasanya muncul pelajaran yang tidak disukai  ini pada masa-masa SMA. karna pada masa ini seorang sudah ketika seorang harus bergulat dengan pelajaran yang tidak disukanya, pastilah ia akan melakukan suatu tindakan berontak. Dan yang terlihat oleh guru bukan tindakan berontak, melainkan kenakalan dari murid itu. Ketika sudah begini pasti yang menjadi kambing hitam adalah murid ini sendiri. Seolah-olah ia hanya akan menjadi sutu masalah untuk sekolah tersebut. Dan ujung-ujung nya ia akan dikeluarkan dari sekolah. Hanya karena seseorang yidak bisa pintar pada semua bidang. Ia harus dicap sebagai murid bandel.

Kepintaran orang berbeda-beda. Mengapa kepintaran itu tidak dimanfaatkan, mengapa seorang yang pintar di suatu bidang harus menerima pelajaran yang sangat jauh berbeda dari bakatnya. Jika sudah begini, apakah masih murid yang salah.? Seolah seorang murid ini  malas dan tidak patut naik kelas. Jika hanya patokan kepintaran seseorang hanya melalui Ilmu eksak, dan juga kepintaran seseorang hanya diukur dengan seluruh mata  pelajaran disekolah.?? Maka pasti ia akan akan terlihat benar-benar bodoh. Karena diluar sana untuk kita hidup, tidaklah hanya ilmu eksak dan ilmu pengetahuan disekolah saja yang perlu. Berbagai kepintaran juga sangat perlu. Seperti bakat olahraga contohnya.

Pada dasarnya Pendidikan adalah mendidik mereka para anak muda generasi bangsa, dan membimbing mereka yang sudah mampu atau sudah pintar. Dan mengajar mereka yang belum tau sama sekali untuk apa dia sekolah. Dan bagaimana cara menyadarkannya untuk menjadi dirinya sendiri. Namun sekarang, hal yang berbeda yang terjadi, para murid yang kurang bimbingan atau bandel, malah dikeluarkan dari sekolah. Jika disekolah aja ia bandel, apalagi jika ia telah dikeluarkan dan berkeliaran bebas diluar. Dengan begitu ia pasti akan menjadi seorang generasi perusak bangsa. 

Mungkin jika sudah begini. Patut kita pertanyakan. Apa hakikat pendidikan dan apa sesungguhnya fungsi sekolah sebenarnya. Apakah sekolah hanya menjadi ajang untuk menggaji para guru-guru. Tanpa mereka berusaha mendidik, tapi hanya dengan memaksakan masuk pelajaran dan berbagai pengtahuan ke otak kami. Kami butuh pendidik, bukan pengajar.

Sebagai generasi bangsa, perubahanlah yang tetentunya kita inginkan. Asah bakat mereka tidak dengan hanya mata pelajaran yang dikurikulumkan, dan jika hanya sekolah menjadi tempat bagi mereka yang pintar dan baik perbuatanya. Maka harus juga sekolah tersebut mendidik para generasi bangsa yang bandel-bandel, bukan malah mengeluarkan mereka dari sekolah.  

Belajar di Kebun Kacang

Perubahan dalam proses ansos kali, benar-benar memberi manfaat yang begitu bearti bagi kami para peserta peace and green community ( PGC ). Yang dulunya dalam melakuka Ansos kami semua berangkat bersamaan.dan sekarang kami terbagi dalam 2 tahap keberangkatan, keberangkatan pertama, pada sore sabtu, dan tahap yang kedua pada pagi hari minggu sebelum Ansos.

Kami yang berangkat pada sore sabtu begitu beruntung, kami semua bisa bersosialisasi dengan masyarakat lebih cepat dari teman lain. bercengkrama dengan akrabnya, bagaikan kami sudah lama kenal. Masyarakatnya sangat ramah, Kami disambut bak pahlawan yang baru pulang dari medan perang. Kami semua menginap dirumah mantan kepala keuchik desa setempat.

Dan pada malam hari nya, sosialisasi dengan masyarakat kami lanjutkan lagi. Tapi, yang ini formatnya lebih seru dan menyenangkan. Kami para peserta peace and green community mengajak warga untuk nonton bareng film-filmyang bertema perjuangan dan pendidikan. mereka sangat antusias dalam mengikuti acara nonton film ini. salah satu nya: film cut nyak dhien. agar para warga tidak jenuh dengan hanya menonton saja, kami dan juga pemuda desa setempat mengadakan bakar ikan. Ternyata dalam sekejap ikannya telah habis di sikat oleh kami dan juga warga. sungguh pengalaman menyenangkan yang kami semua rasakan, dan mungkin tidak kami rasakan ditempat lain.

Keesokan harinya kami menunggu kedatangan rombongan tahap kedua yang berangkat dari Meulaboh. Setelah mereka datang, kami brifing sebentar, setaelah itu kami langsung ke tujuan kegiatan kami. Kebetulan kelompok ku, mendapat tempat untuk Ansos di kebun kacang yang berada didesa pante ceureumen.

Ketika pertama menginjakkan kaki di kebun itu, aku merasakan hal yang berbeda. keadaannya begitu kental dengan suasana kekeluargaan, masyarakat disitu saling membantu sesama sanak keluarga. Kebetulan pada hari itu mereka sedang panen kacang, jadi banyak saudara pemilik lahan yang ikut membantu panen,.
Jika kita bandingkan perjuangan mereka dalam menanam kacang sampai kacang itu siap panen, Mungkin  tidaklah seimbang dengan semangat dan kerja keras mereka. Bayangkan kerja keras mereka hanya berharga 2 juta rupiah, itu dalam 1 satu kebun. tapi mereka tidak merasa tidak puas, karna mereka berkebun kacang hanya untuk menunggu musim tanam padi tiba, dan waktu yang kosong itu mereka pergunakan untuk berkebun saja…

Semangat dan kerja keras,  telah melatih mereka utuk selalu bersyukur, walaupun dalam keadaan kekurangan . menemukan orang-orang yang tinggal di kota namun yang berjiwa seperti orang-orang  desa, sangatlah sulit.. gemerlap kehidupan serba bercukupan membuat kita tidak sadar kita telah di kalahkan oleh pekerja keras dari desa ini…

Satu keinginan ku, setelah ini. Keinginan yang mungkin akan sulit aku mulai, dan juga mungkin akan sulit tu ku jalani…. Emngobarkan semangat yang ada pada mereka dalam kehidupan sehari-hariku… mungkin akan sulit, namun apa salahnya untuk mencoba, agar aku menjadi orang yang lebih baik………..

Telur Ibarat Perdamaian

melempar telur
Perdamaian, perdamaian, perdamaian, perdamaian, banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai.
Ini adalah lirik lagu yang biasa kita dengar sehari-hari, jika kita cermati lagu ini sangat tepat untuk menggambarkan perdamaian yang sudah ada sekarang. Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai…….? Kita pasti bertanya-tanya mengapa ini bisa terjadi…..?

Seperti biasanya setiap hari Senin, saya dan teman-teman mengikuti Peace Education, kakak yang mengajari kami pun bertanya: apakah kami pernah melihat telur? Kakak itu pun bertanya lagi: jika telur dilempar apa yang terjadi…? Jawaban kami sama semua: pasti pecah! Kami pun bingung dengan pertanyaan kakak itu, lalu kakak itu membagikan telur, pipet, gunting, selotip, dan gelas aqua. Kami pun bingung untuk apa ini semua? ”Jangan-jangan kami mau diajari merebus telur lagi,” kata salah satu teman saya.

Ternyata bukan itu, tapi kami disuruh untuk melindungi telur dengan bahan-bahan yang diberikan tadi, setelah semua selesai, telur yang telah dilindungi itu harus di lempar ke dinding. Setelah semua telur dilempar, ada telur yang pecah dan ada juga yang tidak pecah.

Maksud permainan tadi, perdamaian yang sudah ada harus dijaga dengan saling mengerti, ramah, dan lain-lain. Telur tadi diibaratkan perdamaian dan bahan-bahan lain di ibaratkan hal-hal yang menjaga perdamaian itu untuk tetap utuh.

Permainan melempar telur ini mengajari kami untuk menjaga perdamaian agar tidak ada lagi perang dan konflik, karena kita semua cinta damai, bukan cinta konflik.

Perajalanan ke Beutong Ateuh

di puncak gunung singgah mata
SERU, mungkin ini kata yang tepat untuk menggambarkan pengalaman yang kami dapatkan dalam kegiatan Analisis Sosial (ANSOS) di Beutong Ateuh. Bermacam hal telah kami rasakan selama di sana, mulai dari yang melelahkan, menyedihkan, membosankan, menyenangkan, hingga mengharukan. Kendati pada mulanya rasa pesimis sempat menghampiri kami, karena selain orang tua berkebratan, mencuatnya isu seputar terorisme, jarak tempuh yang jauh dan masa lalu Beutong Ateuh menyimpan duka, akhirnya kami sampai juga ke tujuan. Beutong Ateuh. 

Sesuai dengan tujuan kami, kegiatan ANSOS dimaksudkan untuk melihat kehidupan masyarakat Beutong Ateuh secara lebih dekat dalam berbagai aspek kehidupan, lebih-lebih aspek pendidikan, budaya dan agama. Di empat desa yang kami tuju, yakni desa Blang Merurandeh, Babah Suak, Kuta Tengoh dan Blang Pu’uk, kami mewawancarai setiap wrga yang kami jumpai, mulai dari anak sekolah, ibu-ibu, orang tua dan muda, laki-laki dan perempuan. 

Ada beberapa pengalaman menarik yang kami jumpai dalam perjalanan kami mengunjungi desa-desa tujuan. Salah satu di antaranya adalah kami sangat susah untuk mendapatkan warga yang bisa kami wawancarai. Jika ada yang bisa kami wawancarai, mereka hanya mengatakan “ loen kureung mephoem masalahnyan” (saya kurang mengerti masalah itu). Kisah yang lain adalah ketika kami sedang berfoto bersama adik-adik, tiba-tiba seoarng bapak menghampiri kami, ia marah dan ingin mengusir kami. Namun, setelah kami mewawancarai beberapa penduduk yang lain, ternyata orang-orang di empat desa di Beutung Ateuh sangat merasa enggan untuk menerima mahasiswa, lantaran mahasiswa yang datang mengunjungi Beutung Ateuh pernah menjanjikan banyak hal setelah mereka mengimput data, sementara janji tinggal janji. Tidak ditepati.

Seusai melakukan perjalanan wawancara, pada malam terakhir kami mulai mempresentasikan semua hasil yang telah kami peroleh. Dari hasil presentasi ini kami mengetahui bahwa masyarakat Beutong Ateuh memiliki keterbatasan dalam banyak hal. Sebagai misal, sekolah yang ada di Beutung Ateuh hanya SD dan SMP dengan guru yang terbatas. Demikian juga dengan listrik. Batas maksimal penggunaan istrik hanya 12 jam perhari. Namun demikian, di balik segala keterbatasan Beutung Ateuh menyimpan kesederhanaan. Masyarakatnya ramah, walau masih menyimpan prasangka terhadap para pendatang baru.

Banyak kesan buruk terhadap Beutung Ateuh, misalnya sebagai tempat persembunyian teroris, ladang ganja, dan berbagai kisah tentang ajaran sesat. Namun setelah kami mengunjungi Beutong Ateuh, semua kesan buruk itu seperti hilang. Beutung Ateuh begitu nyaman, aman dan damai. Juga penuh dengan kandungan sejarah yang kaya makna. Salah satunya adalah, pengalaman Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien pernah menjadikan Beutung sebagai tempat persembunyian yang aman dari kejaran tentara Belanda. Bersama kawan-kawan yang lain, saya sempat mengunjungi tempat bersejarah tersebut, yaitu sebuah batu yang dipercaya sebagai tempat Cut Nyak Dhien menuliskan sesuatu dalam bahasa Arab dan Belanda. Sebuah batu yang sangat menakjukkan. 

Tapi sayang batu itu tidak dirawat, andai saja batu itu dirawat, mungkin akan menjadi tempat wisata yang menarik yang ada di Beutong Ateuh. Satu hal yang membuat saya dan juga kawan-kawan lain berkesan adalah situasi Beutung Ateuh yang aman dan damai. Tentang hal ini sempat terlitas dalam pikiran saya, yakni ingin mengatakan kepada semua, khususnya masyarakat Aceh bahwa Beutong Ateuh tidak seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Masyarakat Beutung Ateuh adalah masyarakat yang sama seperti masyarakat Aceh pada umumnya yang menghendaki hidup dan kehidupan yang damai, aman dan sejahtera.

Profil

Label

Entri Populer

 
| |
© 2026. Petualanganku - All Rights Reserved